Kesunnahan Puasa Rajab

KH. Taufik Ismail, M.A
(Penagasuh Pondok Pesantren Al fath Bekasi)

Banyak orang yang meributkan tentang puasa Rajab. Ada yang mengatakan itu sunnah berdasarkan hadist ini dan hadist itu; ada yang mengatakan itu haram diamalkan karena tidak ada tuntunan /rasulullah tidak pernah melakukannya, dengan kata lain puasa rajab adalah amalan yang diada-adakan (bid’ah), dan ada juga yang berpandangan bahwa puasa rajab itu amalan yang sangat baik dilakukan walaupun tidak ada dalil yang khusus yang menjelaskan tentang puasa rajab.

Memang tidak ada satupun hadits shahih yang secara khusus menyatakan kesunnahan puasa Rajab. Namun di sisi lain juga tidak ada larangan secara khusus untuk berpuasa pada bulan Rajab. Oleh karena itu, dalil-dalil umum mengenai anjuran berpuasa setahun penuh kecuali lima hari yang diharamkan, cukup dijadikan dalil atas dianjurkannya puasa Rajab.

Dalam Shahih Muslim, hadits no. 1.157 :

ﻋُﺜْﻤَﺎﻥُ ﺑْﻦُ ﺣَﻜِﻴﻢٍ ﺍﻟْﺄَﻧْﺼَﺎﺭِﻱُّ ﻗَﺎﻝَ ﺳَﺄَﻟْﺖُ ﺳَﻌِﻴﺪَ ﺑْﻦَ ﺟُﺒَﻴْﺮٍ ﻋَﻦْ ﺻَﻮْﻡِ ﺭَﺟَﺐٍ ﻭَﻧَﺤْﻦُ ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﻓِﻲ ﺭَﺟَﺐٍ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺳَﻤِﻌْﺖُ ﺍﺑْﻦَ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﻛَﺎﻥَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﺼُﻮﻡُ ﺣَﺘَّﻰ ﻧَﻘُﻮﻝَ ﻟَﺎ ﻳُﻔْﻄِﺮُ ﻭَﻳُﻔْﻄِﺮُ ﺣَﺘَّﻰ ﻧَﻘُﻮﻝَ ﻟَﺎ ﻳَﺼُﻮﻡُ

Utsman bin Hakim Al Anshari berkata: Saya bertanya kepada Sa’id bin Jubair mengenai puasa Rajab, dan saat itu kami berada di bulan Rajab. Maka ia pun menjawab: Saya telah mendengar Ibnu Abbas radliallahu ‘anhuma berkata: Dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berpuasa sehingga kami berkata bahwa beliau tidak akan berbuka. Dan beliau juga pernah berbuka hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan puasa.”

An Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim mengomentari hadits di atas dengan mengatakan:

_“Zhahirnya, yang dimaksud Sa’id ibn Jubair dengan pengambilan hadits ini sebagai dalil adalah bahwa tidak ada nash yang menyatakan sunnah ataupun melarang secara khusus terkait puasa Rajab. Karenanya, ia masuk dalam hukum puasa pada bulan-bulan yang lain. Tidak ada satupun hadits tsabit terkait puasa Rajab, baik anjuran maupun larangan. Akan tetapi, hukum asal puasa adalah disunnahkan.

Dalam Sunan Abu Dawud nomer hadits 2.428 bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyatakan kesunnahan puasa pada bulan-balan haram (al Asyhur al Hurum , Attaubah: 5) , dan Rajab adalah salah satunya.

Dalam hal ini pendapat Ibnu Taimiyah bukan melarang apalagi membid’akan puasa bulan Rojab , akan tetapi ” Penilaian Hadits yg secara khusus bhw hadits tsb banyak yg maudhu’ / palsu adalah benar “.

Namun kesunnahannya menggunakan keumuman dalil yg shahih dr al-qur’an dan hadits shahih Muslim : 1.157 (pasti shahih) & HR Abu Daud : 2.428 juga shahih.

Contoh Hadits Maudhu’ / palsu :

إن شهر رجب شهر عظيم من صام يوماً كتب الله له صوم ألف سنة
ومن صام يومين كتب الله له صيام ألفي سنة ومن صام منه ثلاثة أيام كتب الله له صوم ثلاثة الاف سنة ومن صام سبعة أيام أغلقت عنه ابواب جهنم، ومن صام منه ثمانية أيام فتحت له ابواب الجنة الثمانية يدخل ايها شاء. .. …. ……

Sesungguhnya bulan rojab adalah bulan yg agung , barangsiapa yg puasa satu hari pada bulan itu maka Allah mencatat utknya (pahala) puasa 1000 tahun , siapa yg puasa 2 hari maka Allah mencatat utknya ( pahala) puasa 2000 tahun , siapa yg puasa 3 hari pada bln rojab maka Allah mencatat utknya pahala puasa 3000 tahun , siapa yg puasa 7 hari pada bln rojab maka pintu neraka jahannam ditutup utknya , dan barang siapa yg puasa 8 hari pada bln rojab maka 8 pintu surga dibuka utknya , dia akan masuk pintu yg dikehendakinya…….._ ”

Nah…, itu contoh hadits palsu yg terdapat dalam kitab

تنزيه الشريعة المرفوعة
عن الأحاديث الشنيعة الموضوعة,ص :152

لأبي الحسن علي بن محمد بن عراق الكناني 907-963 H

Maka ketika kita puasa di bulan rojab jangan bersandar dg hadits di atas, kita puasa semata mata karena Allah swt, dengan tidak berniat karena hadits palsu tsb. Karena hadits palsu sama sekali tdk boleh digunakan sbg landasan hukum dlm beramal. Jadi kita harus proporsional dlm menyikapi sunnahnya shoum bln rojab dg tanpa membatasi ( dg keyakinan) puasa hari pertama pahalanya ini…., hari kedua ini……, hari ke…… dst. Menyalahkan orang yang melakukan puasa rajab dikarenakan tidak contoh khusus dari Rasulullah SAW juga tidak dibenarkan karena beberapa amalan yang kita lakukan juga tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah tetapi para sahabat melakukannya. Apakah adil bagi kita yang dhoif ini menyalahkan para sahabat radiallahu anhum? mari kita lebih bijak dalam menyikapi setiap perbedaan yang ada di tengah-tengah kita. sesungguhnya keindahan itu karena berawal dari sebuah perbedaan yang dapat dipadukan dengan baik.